Mengenal Konformitas: Perilaku ‘Ikut-Ikutan’ Terhadap Orang Lain

Oleh : Eka Hillah Wardana

Mahasiswa Psikologi Unnes

Email : [email protected]

Kita mengenal sebuah istilah yang disebut konformitas. Apa, sih, sebenarnya yang dimaksud dengan konformitas?

Seringkali dalam kehidupan sehari-hari kita mendengar kalimat-kalimat seperti, “Halah, paling dia cuma ikut-ikutan temannya.” atau “Pasti kamu milih dia, kan? Kalian kan satu geng.” Kalimat-kalimat diatas bisa menjadi petunjuk tentang apa  definisi konformitas.

Nah, apa itu konformitas? Apa saja faktor yang mempengaruhinya? Dan apa alasan orang melakukan konformitas? Mari kita bahas satu-persatu.

Brehm dan Kassin (dalam Suryanto dkk., 2012) mendefinisikan konformitas sebagai kecenderungan individu untuk mengubah persepsi, opini dan perilaku mereka sehingga sesuai atau konsisten dengan norma-norma kelompok. Myers (2010) mengemukakan bahwa konformitas berarti perubahan perilaku pada individu  sebagai akibat dari adanya tekanan kelompok. Ditambahkan oleh Myers, konformitas bukan sekadar berperilaku seperti orang lain, namun juga dipengaruhi oleh bagaimana orang lain berperilaku.

Konformitas adalah proses dalam diri anggota kelompok untuk menyesuaikan diri terhadap norma-norma yang ada dalam kelompok (Riggio, 2009). Hal ini dilakukan sebagai gambaran kepatuhan anggota terhadap norma kelompok dan hal tersebut akan sangat membantu mempertahankan keteraturan dan keseragaman dalam kelompok.

Misal, seorang kpopers akan menyembunyikan kesukaannya tentang kpop selama berada dalam pertemuan dengan keluarga besarnya yang tidak mengetahui apapun soal kpop. Contoh lain yaitu ketika ada satu orang dari kelompok A bermusuhan dengan orang dari kelompok B, maka ada kecenderungan seluruh anggota kelompok A membenci orang dari kelompok B. Hal ini terjadi karena mereka merasa harus memiliki rasa solidaritas yang tinggi terhadap sesama kelompoknya.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi konformitas yaitu: pengaruh dari orang-orang yang disukai; kekompakan kelompok; ukuran kelompok, konformitas akan meningkat sejalan dengan bertambahnya jumlah anggota kelompok; dan norma sosial deskriptif dan norma sosial injungtif, norma injungtif yaitu hal apa yang seharusnya dilakukan sedangkan norma deskriptif adalah apa yang kebanyakan orang lakukan. Norma injungtif biasanya dinyatakan secara eksplisit dan cenderung diabaikan, sementara yang deskriptif bersifat implisit dan cenderung diikuti. Contoh: semua orang tahu bahwa melanggar lampu merah itu tidak boleh, namun banyak orang yang melakukannya sehingga sekarang dapat ditemui banyak pengendara yang melanggar lampu merah.

Bukan tanpa alasan orang-orang melakukan konformitas, sejatinya setiap manusia memiliki keinginan untuk disukai dan dipuji, salah satu caranya yaitu dengan melakukan konformitas terhadap kelompok sosialnya; alasan lain yaitu takut terhadap penolakan, orang akan cenderung melakukan konformitas agar bisa diterima oleh kelompok sosialnya; keinginan untuk merasa benar, jika ada orang lain dalam kelompok atau kelompok ternyata mampu mengambil keputusan yang dirasa benar maka dirinya akan ikut serta agar dianggap benar.

Di sisi lain, ada beberapa orang yang enggan melakukan konformitas. Hal ini bisa dipahami karena terkadang individu memiliki kebutuhan untuk menjadi unik/berbeda dari orang lain (deindividuasi) dan keinginan untuk tetap mempertahankan kontrol terhadap hidupnya, dalam hal ini individu berkeinginan untuk menjadi bebas. Menurutnya, tidak ada hal yang bisa memaksa dirinya untuk mengikuti norma sosial yang ada. (Baron, Branscombe, dan Byrne, 2008)

Kesimpulan

Konformitas merupakan perubahan perilaku, persepsi, dan opini sebagai usaha untuk menyesuaikan diri dengan norma kelompok dengan atau tanpa tekanan secara langsung dari kelompok tersebut. Konformitas muncul ketika individu mengikuti perilaku, persepsi, maupun opini orang lain, dikarenakan  oleh tekanan orang lain, baik yang nyata maupun yang dibayangkan. Hasil dari proses konformitas bisa positif bisa juga negatif. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi konformitas yaitu: pengaruh dari orang-orang yang disukai; kekompakan kelompok; ukuran kelompok; dan norma sosial deskriptif dan norma sosial injungtif. Individu yang ingin tampil beda, unik, serta berkeinginan untuk bebas mempertahankan kontrol terhadap hidupnya cenderung memilih untuk tidak melakukan konformitas, sebaliknya, individu yang melakukan konformitas memiliki motif ingin disukai, dipuji, diterima oleh kelompoknya, dan berkeinginan untuk merasa benar.

DAFTAR PUSTAKA

Hanurawan , F. (2014). Psikologi Kelompok . Serang : FTK Banten Press.

Meinamo, A. E., Sarlito, W., & Sarwono . (2018). Psikologi Sosial Edisi 2. Jakarta: Salemba Humanika.

Myers, G. D. (2010). Social Psychology. Teen Edition: McGraw-Hill Publication.

Suryanto. (t.thn.). Pengantar Psikologi Sosial. Surabaya: Pusat Penerbitan dan Percetakan Universitas Airlangga.

Berikan komentarmu!

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: